EFEKTIVITAS WEED SOLUT-ION SEBAGAI TRIGER PADA APLIKASI HERBISIDA PARAKUAT (Institut Pertanian Bogor – IPB)

Team Penguji : Dr.Dwi Guntoro, Dr.Adolf Pieter Lontoh, Bayuanggara, dan Intan Putri Rolenzah

ABSTRAK

Pegujian lapangan efektivitas Weed SOLUT-ION sebagai triger pada aplikasi herbisida parakuat bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan SOLUT-ION terhadap efektivitas formulasi herbisida parakuat pada pengendalian gulma di perkebunan kelapa sawit TBM. Percobaan dilaksanakan di perkebunan kelapa sawit TBM, Kebun Percobaan IPB Cikabayan, Darmaga, Bogor, Jawa Barat mulai bulan Mei 2014 hingga bulan September 2014. Percobaan dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak kelompok dengan empat ulangan. Perlakuan yang diuji yaitu : Kontrol tanpa disemprot (B1), Parakuat 3.0 l/ha (B2), Parakuat 3.0 l/ha + Solut-ion 1.0 l/ha (B3), Parakuat 2.0 l/ha (B4), Parakuat 2.0 l/ha + Solut-ion 1.0 l/ha (B5), Parakuat 1.0 l/ha (B6), Parakuat 1.0 l/ha + Solut-ion 1.0 l/ha (B7), Parakuat 1.0 l/ha + Solut-ion 2.0 l/ha (B8). Satuan percobaan berupa gulma di bawah 3 piringan tanaman kelapa sawit TBM. Hasil percobaan menunjukkan bahwa penambahan Solut-ion pada aplikasi herbisida parakuat dapat meningkatkan efektivitas mengendalikan gulma umum pada perkebunan kelapa sawit TBM di lokasi percobaan. Penambahan Weed Solut-ion pada aplikasi herbisida parakuat dapat meningkatkan efisiensi pengendalian gulma pada perkebunan kelapa sawit TBM dan terbukti dapat mengurangi penggunaan herbisida parakuat. Gulma terkendalikan mulai pengamatan 1 bulan setelah aplikasi (BSA) hingga pengamatan 2 BSA. Aplikasi herbisida parakuat 1.0 l/ha + Solut-ion 1.0 l/ha dapat mengendalikan gulma-gulma dominan yang terdapat di lokasi percobaan dengan hasil yang tidak berbeda nyata dengan aplikasi herbisida parakut dosis 2.0 l/ha dan 3.0 l/ha tapa Solut-ion. Gulma dominan yang terkendalikan yaitu gulma spesies Ottochloa nodosa, Axonopus compressus, Paspalum conjugatum, dan Pennisetum polystachion. Aplikasi herbisida parakuat pada dosis 1 l/ha hingga 3.0 l/ha baik dengan Solut-ion maupun tanpa Solut-ion tidak menyebabkan gejala fitotoksisitas pada tanaman kelapa sawit Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) di lokasi percobaan. Penambahan Solution 1.0 l/ha dapat mengurangi penggunaan herbisida parakuat dan dapat mengurangi residu parakuat pada tanah di piringan kelapa sawit TBM.

This slideshow requires JavaScript.

Kata kunci : dosis efektif, gulma dominan, parakuat, kelapa sawit, Weed SOLUT-ION, triger.

Advertisements

HASIL PENGUJIAN WEED SOLUTION PT SUMBER TANI AGUNG (STA) GRUP – MEDAN

Team Penguji :  Pak Apo (GM PT PAL), Pak Halwani (Manager Kebun PT PAL), Asisten Divisi 1 & 3, Wahyudi  (PT. Pandawa Agri Indonesia), Ervindi (PT Wahana Agro Fertila)

ABSTRACT

Demplot dilakukan untuk mengetahui respon aplikasi Weed SOLUT-ION sebagai bahan campuran herbisida post-emergence b.a Parakuat pada pengendalian gulma perkebunan kelapa sawit PT Paten Alam Lestari (PAL) – Sumber Tani Agung (STA) group agar menjadi lebih efektif, ekonomis, dan ramah lingkungan sesuai dengan persyaratan ISPO maupun RSPO. Demplot dilakukan pada tanggal 29 Mei 2015 bertempat di Negeri Lama-Labuhanbatu Sumatera Utara, Perkebuan Kelapa Sawit TBM (Tanaman Belum Menghasilkan) PT Paten Alam Lestari – STA group, Divisi 3, Blok F-30,

Aplikasi Demplot Adjuvant WEED SOLUTION dilakukan dengan mencampurkan dengan herbisida kebun bahan aktif Parakuat. Metode percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan ulangan yang digunakan sebanyak satu kali sebagai kontrol dan diaplikasikan pada areal piringan pohon dan pasar pikul sesuai dengan dosis yang digunakan, antara lain P1 (Parakuat 50  ml), dan P2 (Parakuat 25 ml + Weed Solution 25 ml). Masing-masing perlakuan disemprotkan dipiringan dan pasar pikul sebanyak 1 Kap/perlakuan

Hasil perlakuan menunjukkan bahan aktif Parakuat pada dosis rekomendasi 50 ml/kap pada tanaman Kelapa Sawit (Perlakuan P2) tidak berbeda hasil efikasi pada umur 2 MSA dan kecepatan regrowthnya dibandingkan dengan perlakuan subtitusi 50% dosis yang menggunakan Weed Solution P1 (parakuat 25 ml + weed solution 25 ml). Pada umur 8 MSA regrowth gulma sudah dijumpai atau prosentase penutupan kembali oleh gulma lama ataupun gulma baru mencapai  20%. Aplikasi herbisida Parakuat dengan penambahan SOLUT-ION tidak menyebabkan gejala fitotoksisitas pada tanaman kelapa sawit Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) di lokasi percobaan. Efisiensi biaya/penghematan yang diperoleh dari penggunaan campuran Weed Solution pada aplikasi herbisida bahan aktif Parakuat, pada luasan 15.000 ha selama satu tahun (3 kali aplikasi/rotasi) adalah 20%.

This slideshow requires JavaScript.

Kata kunci: Adjuvant Herbisida, Campuran herbisida, Parakuat, Gulma, Herbisida,  ISPO, Kelapasawit, Pengurangan dosis herbisida, RSPO, STA Grup, PT PAL, Weed Solution.

HASIL PENGUJIAN WEED SOLUTION PT SOCFIN – MEDAN

Team Penguji: Wahyudi, Nuha Hera Putri (PT Pandawa Agri), Dony Suhendra (PT Socfin Indonesia), Asisten Kepala Kebun Bangun Bandar, Asisten Kepala Kebun Matapao

ABSTRACT

Pengujian dilakukan untuk mengetahui respon aplikasi Weed Solution sebagai bahan campuran herbisida postemergence untuk herbisida berbahan aktif Glifosat, Fluroxypyr, Parakuat dan 2.4 D pada pengendalian gulma perkebunan kelapa sawit agar menjadi lebih efektif, ekonomis dan ramah lingkungan sesuai dengan persyaratan ISPO maupun RSPO. Pengujian dilakukan di kebun kelapa sawit PT SOCFIN yang berlokasi di Matapao dan Bangun Bandar Medan-Sumatera Utara pada bulan Juli dan Agustus 2015 sampai dengan November 2015. Terdapat 11 perlakuan dan 5 ulangan yang terdiri dari 2 perlakuan Fluroxypyr, 3 perlakuan Parakuat dan 6 perlakuan Glifosat.

Perlakuan Fluroxypyr terdiri dari F1 (40 ml Fluroxypyr) dan F2 (20 ml Fluroxypyr +20 ml Solution). Perlakuan Parakuat terdiri dari P1 (200 ml Parakuat + 2.5 g Metilmetsulfuron), P2 (100 ml Parakuat + 100 ml Solution + 2.5 g Metilmetsulfuron) dan P3 (100 ml Parakuat + 100 ml Solution + 1.25 g Metilmetsulfuron). Sedangkan perlakuan Glifosat terdiri dari G1 (300 ml Glifosat), G2 (150 ml Glifosat + 150 ml Solution ), G3 (300 ml Glifosat + 100 ml 2.4D), G4 (150 ml Glifosat + 50 ml 2.4 D + 200 ml Solution), G5 (350 ml Glifosat) dan G6 (175 ml Glifosat + 175 ml Solution). Dosis pada semua perlakuan yang digunakan merupakan dosis per ha.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa pengurangan dosis herbisida yang disubstitusi weed solution mampu mengendalikan Mucunabracteata (bahan aktif Fluroxypyr), gulma Stenochlaena palustris(bahan aktif Parakuat) danbeberapa jenis gulma berdaun lebar lainnya untuk herbisida berbahan aktif Glifosat. Berikut merupakan contoh perlakuan herbisida berbahan aktif parakuat.

This slideshow requires JavaScript.

Kata kunci: Adjuvant Herbisida, Campuranherbisida, Fluroxypyr, Glifosat, Gulma, Herbisida,   ISPO, Kelapasawit, Parakuat, Pengurangandosisherbisida, RSPO, SOCFIN, Weed Solution.

EFEKTIVITAS WEED SOLUTION SEBAGAI TRIGGER PADA APLIKASI HERBISIDA DI PT PERKEBUNAN NUSANTARA (PTPN) III – Medan

Team Penguji: Wahyudi, Ervindi, Hary Fransnicko

ABSTRACT

Pengujian dilakukan untuk mengetahui respon aplikasi Weed Solution sebagai bahan campuran herbisida post emergence untuk herbisida berbahan aktif Glifosat pada pengendalian gulma perkebunan kelapa sawit agar menjadi lebih efektif, ekonomis dan ramah lingkungan sesuai dengan persyaratan ISPO maupun RSPO. Pengujian dilakukan di kebun kelapa sawit Tana Raja – Medanpada bulan Juni sampai dengan September 2015. Terdapat 4 perlakuan yang terdiri dari F1 (100 ml Glifosat A), F2 (50 ml Glifosat A + 50 ml Solution), F3 (100 ml Glifosat B), F4 (50 ml Glifosat B + 50 ml Solution). Dosis pada semua perlakuan yang digunakan merupakan dosis per kap.

Pengurangan glifosat sebanyak 50% dan dengan menambahkan Weed Solution sebesar 50% menghasilkan persentase kematian gulma yang tidak berbeda yaitu mencapai 100% pada semua perlakuan, Glifosat A maupun Glifosat Bsampai dengan 8 MSA.  Hasil ini menunjukkan bahwa penambahan Weed Solution dapat meningkatkan efektivitas kerja herbisida glifosat dalam mengendalikan gulma.  Dengan pengurangan herbisida menghasilkan persen kematian yang sama, berarti bahwa penambahan Weed Solution menghemat penggunaan bahan herbisida glifosat.

PTPN 3Kata kunci: Adjuvant Herbisida, Campuran herbisida, Gulma, Glifosat, Herbisida,

ISPO, Kelapa sawit, Pengurangan dosis herbisida, PTPN 3,RSPO, Trigger, Weed Solution.

Adjuvant Weed Solution

Apa itu Adjuvant Weed Solution ??

Weed Solut-ioN  merupakan  formula  ADJUVANT  bukan  merupakan Herbisida atau lebih dikenal dengan penguat daya penetrasi bahan aktif herbisida ke tanaman, sehingga menimbulkan dampak efektifitas dan efisien terhadap penggunaan Herbisida khususnya Herbisida Pra-tanam (bahan aktif Glifosat atau Paraquat)

Weed Solut-ioN dapat secara efisien mengurangi jumlah volume penggunaan herbisida yang pada umumnya digunakan oleh para petani tanpa mengurangi dampak hasil sasaran kematian pada gulma yang dikehendaki. Secara tidak langsung dengan adanya Weed Solut-ioN ini petani dapat lebih berhemat dalam hal penggunaan biaya untuk pengendalian gulma tanpa mengurangi kualitas hasil pengendalian

Brosur Weed Solution_muka_newBrosur Weed Solution_balikan_newIMG-20151202-WA0001.jpg

link download brosur Weed Solution format Pdf :brosur WEED solution

EFEKTIVITAS WEED SOLUT-ION SEBAGAI TRIGER PADA APLIKASI HERBISIDA GLIFOSAT (Institut Pertanian Bogor – IPB)

Team Penguji :
Dr.Dwi Guntoro, Dr.Adolf Pieter Lontoh, Bayuanggara, dan Intan Putri Rolenzah

ABSTRAK
Pegujian lapangan efektivitas SOLUT-ION sebagai triger pada aplikasi herbisida glifosat bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian SOLUT-ION terhadap efektivitas formulasi herbisida glifosat pada kondisi lapangan. Percobaan dilaksanakan di Pertanaman Kelapa Sawit TBM, Kebun Percobaan IPB Cikabayan, Darmaga, Bogor, Jawa Barat mulai bulan Mei 2014 hingga bulan September 2014. Percobaan dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak kelompok dengan empat ulangan. Perlakuan yang diuji yaitu : Kontrol tanpa disemprot (G1), Glifosat 3 l/ha (G2), Glifosat 3 l/ha + SOLUT-ION 1 l/ha (G3), Glifosat 2 l/ha (G4), Glifosat 2 l/ha + SOLUT-ION 1 l/ha (G5), Glifosat 1 l/ha (G6), Glifosat 1 l/ha + SOLUT-ION 1 l/ha (G7), Glifosat 1 l/ha + SOLUT-ION 2 l/ha (G8). Satuan percobaan berupa gulma di bawah 3 piringan tanaman kelapa sawit TBM. Hasil percobaan menunjukkan bahwa herbisida glifosat + SOLUT-ION dapat mengendalikan gulma umum di lokasi percobaan. Gulma dominan yang dapat dikendalikan oleh herbisida glifosat + SOLUT-ION yaitu Ottochloa nodosa, Paspalum conjugatum, dan Axonopus compressus. Aplikasi herbisida glifosat + SOLUT-ION pada semua dosis yang diuji tidak menyebabkan gejala fitotoksisitas pada tanaman kelapa sawit TBM. Penambahan SOLUT-ION dapat mengurangi penggunaan dosis aplikasi herbisida glifosat. Aplikasi herbisida glifosat 1 l/ha + SOLUT-ION 1 l/ha sudah efektif untuk mengendalikan gulma umum di lokasi percobaan.

dok untuk Publisher
Kata kunci : dosis efektif, gulma dominan, herbisida glifosat, kelapa sawit, SOLUT-ION, triger.

Mengenal Peran Lembaga Filantropi dalam Dunia Wirausaha Sosial

Wah udah bulan Agustus,,dan abis ni udah lebaran,,bulan puasa yang ga kerasa….

Alhamdulillah di tengah2 bulan puasa kemarin, punya kesempatan untuk ke Jakarta, bertemu dengan sang mentor mas @fajaranugerah di acara British Council yang digelar di @commaid . Nah pada kesempatan ini mau sharing tentang apa yang kemarin di dapat disana.

Acaranya sendiri bernama “Impact Investing & Social Enterprise gathering”,,dimana hadir perwakilan-perwakilan dari banyak pelaku Social enterprise di Indonesia, terlihat ada dari ashoka indonesia, Javara, Grameen Bank Indonesia. Selain itu juga tampak hadir dari teman-teman KOI (Komunitas Organik Indonesia). Di tengah2nya ada juga para alumni Community Entreprise Challenge, sang kopi luwak siger, juragan VCO dari Maluku, Raja Sampah, Bu Atiek Kusmiyati dan saya sendiri mewakili Pandawa Putra Indonesia.

Acara dibuka oleh mas Dondi Hananto sebagai perwakilan dari @commaid, lalu diserahkan kepada moderator mas Romy. Pembicaranya sendiri datang dari lembaga-lembaga keuangan luar negeri yang fokus pada pengembangan kewirausahaan di dunia, salah satunya Indonesia. Lembaga-Lembaga ini melakukan investasi kepada usaha lokal di masing-masing negara yang mereka pilih, untuk nantinya didampingi hingga berkembang memberikan impact yang luas kepada masyarakat sekitar. Seperti yang biasa saya bilang Goes Beyond Profits, but Benefits.

Gambar
Mas Romy sedang memperkenalkan satu persatu pembicara

Pembicara pertama dari perwakilan dari LGT VP yaitu David Soukhasing. Seorang Prancis yang menjabat sebagai Accelerator Manager untuk wilayah Indonesia. LGT VP ini sendiri bermarkas di negara Licheistein (bener ga ya tulisannya?), negara tiny mini di Eropa sana yang cakupannya udah di semua benua (keren ya,kecil2 gede juga <—absurd). Di Indonesia LGT VP sebelumnya telah hadir dengan program IVAP dan SWAP yang berkolaborasi dengan GEPI.

20130716_191301
Mr David dari LGT VP

Yang kedua adalah pembicara dari GBF (Grassroot Business Fund), maaf lupa namanya (memang mulai dulu susah apalin nama), yang jelas kalo di gambar yang pertama orangnya duduk di tengah.  Silahkan langung klik ke link yang ku berikan untuk tau lebih lanjut dari GBF ini.

Yang ketiga adalah pembicara dari Grameen Foundation (GF). Yap dari namanya udah terkenal banget kan?? Organisasi ini bentukan dari Prof M.Yunus pemenang nobel perdamaian tahun 2006 . Dan sekarang juga telah merambah ke berbagai negara salah satunya Indonesia. Salah satu mitra dari GF di Indonesia adalah Ruma. Perwakilan dari GF ada pictnya dibawah ini :

Lupa euy namanya..sebut saja Miss cantiklah..:D

Nah sekarang kita bahas bagaimana sistem kerjanya,

Kebanyakan pelaku Social entreprise adalah orang2 yang tidak memiliki basic sebagai pebisnis, adanya masalah sosial seperti kemiskinan,pengangguran,buta huruf dll berusaha diselesaikan dengan berbagai kreativitas ada yang melalui pendekatan seni, pendidikan ada juga yang melalui pendekatan keuangan, nah itu semua belum sahih dikatakan bisnis sosial, bila aspek bisnisnya tidak berjalan. Disinilah lembaga2 seperti LGT VP,GBF maupun Grameen berperan.

Manusia2 yang memiliki kepedulian dan jalan hidup yang berbeda inilah yang didampingi dalam artian menjadi mitra konsultan/mentor dalam membantu permasalahan yang dihadapi. Tentunya tiap badan permasalahannya beda, ada yang mempunyai masalah di keuangan,ada yang mempunyai kesulitan teknis,ataupun akses pasar, para filantropi ini akan mendatangkan para ahli di bidangnya masing2 sesuai dengan yang dibutuhkan. Enak kan ya??Nah apakah itu diberikan cuma2? Tentunya tidak..Its still a business but have a different perception. Para filantropi ini mempunyai cara yang berbeda dalam “meminta” balasan, ada yang masuk sebagai pemegang saham sehingga bisa berperan sebagai penentu kebijakan (meski minoritas) pada badan usaha dalam jangka waktu tertentu atau untuk selamanya, ada yang memberikan pinjaman lunak (bunga middle) dengan jangka waktu yang medium (biasanya 3-10 tahun). Namun ada satu kesamaan diantara tiga filantropi ini yaitu ukuran kesuksesan utama bukan dari omzet usaha,kerapian manajemen usaha atau skill tapi yang paling utama adalah besarnya dampak sosial yang diberikan (Benefit). Oh ya,kalau pengen konsultasi aja tapi ga butuh dana atau ga mau share saham bagaimana??Untuk hal tersebut ketiga filantropi ini tidak bisa menyanggupi, karena keterikatannya memang akhirnya tidak ada. Bila memang yang dibutuhkan seperti itu berarti anda membutuhkan konsultan bisnis bukan lembaga filantropi.

Menarik bukan? Mungkin ada yang bertanya,apa ga risih ada yang “ubek2” dapur usaha kita. Inilah yang sering dilupakan pelaku usaha, untuk mencapai suatu keahlian profesi saja kita harus menempuh sekolah dalam beberapa jenjang, dan di waktu itu kita mempunyai guru yang membimbing kita. Namun waktu melangkah ke bisnis banyak dari kita pelaku bisnis merasa solitare, kenyataannya para wirausahawan yang sukses mayoritas memiliki mentor.

Lalu bagaimana cara memilih yang cocok untuk usaha anda?

LGT VP memiliki range support dana dari $30.000 hingga $500.000, tidak ada syarat omzet usaha harus berapa, namun minimal usaha harus sudah jalan selama 2 tahun. (early middle level company)

GBF memiliki range support dana dari $500.000-$2000.000, ada syarat omzet usaha (sekitar 2 M per tahun), usaha telah jalan selama 3 tahun. (midde-high level company)

Grameen Foundation seperti yang kita tahu memiliki preferensi untuk membantu wirausaha wanita dan lebih cenderung ke low income people or community. Sementara untuk lama usaha maupun omzet bukan menjadi pertimbangan utama. Keunggulan dari grameen ini sudah ada akulturasi dengan Indonesia sehingga sudah ada cabang Grameen Foundation Indonesianya yang dipimpin oleh Pak Farid Maruf. 🙂

Untuk menutup penjelasan akan saya berikan juga gambaran perbedaan antara Lembaga Bank, Filantropi dan Investor konvensional, meski dalam contoh tercantum GBF namun pada umumnya memang hal2 dibawah inilah yang menjadi perbedaan.

Perbedaan cara pandang n support antara Bank, Filantropi dan Investor Konvensional
Perbedaan cara pandang n support antara Bank, Filantropi dan Investor Konvensional

ps: mungkin ada juga yang bertanya karena cinta produksi dalam negeri, untuk yang berasal dari domestik ada ga ya??Ada kok…di lain kesempatan kita bahas juga ya…:). Bila ada yang ditanyakan lebih lanjut saya juga sangat terbuka untuk membagi apa yang saya tahu.

Kukuh Roxa PH (@roxaph)

CEO PPI

Ber-organik bukanlah tujuan akhir

“Ooh.. yang organik itu ya mas?”

Biasanya itu adalah salah satu kalimat pertama yang keluar dari mulut petani yang baru pertama kali bertemu dengan kami. Ada rasa bangga, eksistensi kami di dunia pertanian Banyuwangi sudah mulai disadari bahkan diakui oleh para petani. Melihat reputasi kami sering kali sudah mendahului kehadiran kami. Our reputation already pursuit us kalau kata mbah saya yang keturunan Belanda. Yap, tiga orang pemuda kece lulusan IPB yang terjun langsung ke petani-petani, petani mana yang sanggup menolak kita untuk dijadikan menantu?? Banyak sih, hehehe.. banyak banget malah, hahaha.. *iris-iris urat nadi*

Tapi disini bukan tempatnya membahas dunia permenantuan.

Kembali ke topik, memang ada rasa bangga, maklum jadi semacam seleb, tapi juga sedikit miris, karena setelah ditelaah lagi, dari kalimat awal tersebut terkadang ada beberapa yang menganggap bahwa kami menggiatkan pertanian organik hanya bertujuan untuk menjual produk saprodi organik kami. Tanpa bermaksud munafik, hal tersebut tidak sepenuhnya benar walaupun tidak pula sepenuhnya salah. Memang ada kebutuhan dapur agar tetap mengepul yang harus kami penuhi, terutama @iyud22 bapak buncit yang butuh dana untuk resepsi dengan istri kedua. Salah satunya dengan penjualan produk saprodi organik. Akan tetapi bila kembali ke waktu dimana kami memulai berusaha di ranah pertanian, khususnya padi, dengan sisa-sisa semangat idealisme mahasiswa pertanian, kami bisa mengatakan dengan bangga bahwa apa yang kami tuju diawal dari menggiatkan pertanian organik adalah pencarian sebuah solusi dari banyaknya masalah yang menghambat petani untuk mandiri dan berkembang. Yang pada akhirnya adalah peningkatan kesejahteraan petani itu sendiri!! *prookk.. prookk.. prookk..* *bunyi tepuk tangan sidang jum’at yang berbahagia* *eh sidang jum’at gak boleh tepuk tangan deng*

Mengawali  kisah panjang kami di pertanian organik ini kami dihadapkan dengan tantangan untuk mengelola padi sawah seluas 30 Ha. Menjadi sedikit lebih rumit dari yang dibayangkan karena pada waktu itu kami adalah fresh graduate yang hanya memiliki pengalaman mengelola sawah ubinan di lahan praktikum kampus, itu pun biasanya juga dilakukan keroyokan 4-6 mahasiswa *tutup muka*. Saat itu kami juga dihadapkan dengan lingkungan yang tidak mendukung. Lokasi lahan-lahan yang kami kelola adalah lokasi dimana hama penyakit, terutama wereng sudah endemik, tepatnya di daerah Singonjuruh, Banyuwangi. Sisi positifnya dengan kondisi seperti itu, melalui banyak diskusi kami dengan petani kami justru banyak mempelajari budaya kerja, lingkungan sosial serta pola pikir petani setempat. Hal inilah yang ternyata mejadi akar permasalahan dari tingkat endemik serta membuat mereka terjebak dalam ketergantungan  kepada pemilik penggilingan maupun produsen kimia (red: anorganik).

Image

Obrolan santai di lahan sering menjadi “sesi curhat” berbagai problematika para petani kepada kami..

Dari sisi budidaya, ketergantungan petani kepada produk anorganik yang terkenal ampuh dan cepat (iya, ampuh membuat OPT resisten dan cepat membuat OPT datang lagi) serta penggunaannnya yang jauh dari konsep 4T (tepat waktu, cara, dosis, dan guna) membuat daerah ini menjadi daerah endemik yang selalu mengalami serangan OPT dengan intensitas tinggi diseluruh musim tanam.

Akibat resistensi ini petani perlu menggunakan saprodi-saprodi dengan kualitas terbaik yang harganya jauh lebih mahal tentunya, karena produk dengan harga yang lebih murah sudah tak mampu lagi mengatasi. Dan tinggal menunggu waktu hingga OPT pun menjadi resisten dengan produk yang mahal sekalipun. Karena penggunaannya yang kurang bijak oleh petani.

Menghadapi resitensi ini produsen anorganik dengan baik hati dan senyum sumringah akan membuat produk-produk baru yang harganya tentu saja jauh lebih mahal. Bahkan yang lebih menyedihkan terkadang produk baru yang lebih mahal ini hanyalah formula lama yang dikemas dan diberi merek baru. Bukan asal tuduh, tapi hal ini pun diakui sendiri oleh rekan yang bekerja di salah satu perusahaan besar produsen anorganik.

Dengan produk-produk yang semakin mahal ini, serta harga gabah yang selalu setia dengan yang lama *uhuukk.. uhuukk.. salah tempat buat setia nih*, tentu semakin memberatkan petani dalam membiayai usaha taninya dan keuntungan petani pun juga akan semakin menipis.  Ya bagaimana harga gabah mau naik, harga beras naik sedikit saja banyak masyarakat di kota-kota besar yang pegangannya BB *tapi gak punya pulsa, cuma pake paket BBM jadi kalo di SMS gak akan dibales->emosi->pengalaman pribadi* sudah teriak-teriak sambil gebrak-gebrak meja kayak abis dikerjain mbah dukun bertahun-tahun *DEMI TUHAAANN!!*.

 Image

Teman saya @RoxaPH pernah membuat kultwit simulasi kenaikan harga gabah yang adil bagi petani dan sebenarnya juga tidak akan terlalu memberatkan masyarakat. http://chirpstory.com/li/92305 *kultwit? Iya kuliah twitter, maklum aktivis, mantan bakal calon ketua BEM*

Nah kembali ke persoalan petani, tidak berhenti sampai disitu. Harga-harga saprodi yang semakin mahal otomatis membuat modal yang dibutuhkan semakin besar. Akhirnya banyak yang kemudian meminjam modal kepada penggilingan beras dengan bunga bisa mencapai 50%. Inilah yang kemudian menyuburkan sistem ijon di Indonesia. Dengan adanya pinjaman ini akhirnya petani tidak memiliki posisi tawar terhadap hasil panenan mereka. Kenapa? Karena panenan mereka sudah otomatis diserahkan kepada penggilingan tersebut dengan harga yang biasanya baru diberi tahu kepada petani seminggu setelah panenan mereka diambil. Bagaimana dengan harga yang diberikan itu? Ya pikirin aja sendiri, takut nangis nanti ngetiknya kalo disebutin. Hasil yang didapat setelah dipotong hutang kadang hanya senilai kalian ngajak gebetan makan di pizza hut. Kalau kurang akhirnya sawah mereka digadaikan. Kalau sawah digadaikan akhirnya mereka tidak bisa berusaha. Mereka tidak bisa berusaha akhirnya semakin dalam tenggelam dalam jeratan bunga hutang. Piuuuhh..

Semua ini kemudian menjadi hal komlpleks yang sulit untuk ditentukan dari mana harus memutusnya. Belum lagi masalah lingkungan dan kesehatan dari petani sendiri yang ditimbulkan produk anorganik.

Hal-hal inilah yang kemudian kami brainstorming-kan untuk dicarikan solusinya. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk membuat sebuah sistem usaha hulu sampai hilir sehingga tidak perlu memutus satu persatu rantai permasalahan-permasalahan tersebut. Untuk menguatkan sistem yang bisa mengatasi ini semua dan memberi nilai lebih bagi petani kami melihat hanya bertani organik lah yang mampu menopangnya sebagai fundamental dari sitem tersebut.

Kenapa organik? Karena pada akhirnya hanya bertani organik lah yang dapat mengatasi permasalahan resistensi OPT dan menurunnya produktivitas akibat penurunan kesuburan lahan yang terjadi di lapang. Penurunan kesuburan lahan ini terlihat dari kenyataan untuk mendapatkan hasil yang sama dengan musim sebelumnya diperlukan pupuk dengan dosis yang semakin tinggi.

Bertani organik juga menjadi jawaban bagi usaha kami untuk meningkatkan nilai produk pertanian yang peningkatannya sendiri dapat diterima dengan baik oleh pasar. Kami melihat dewasa ini awareness masyarakat akan healty lifestyle sudah semakin baik sehingga rela mengeluarkan biaya lebih untuk mendapatkan produk organik. Artinya dengan nilai jual produk akhir yang lebih tinggi ini kami dapat memberikan harga yang juga lebih baik bagi petani. Inilah yang kemudian mendasari kami menciptakan sebuah sistem hulu sampai hilir yang awalnya kami mulai dari produk beras merah sehat sebagai end product hingga kini beralih fokus menjadi benih padi sebagai end product.

Memegang pengelolaan selruh prosesnya mulai dari pendampingan petani di lahan hingga memasarkan end product memudahkan kami untuk menerapkan kaidah fair trade. Kami berikan kontrak harga kepada petani diawal kerjasama dengan nilai yang lebih tinggi dari harga pasaran. Selisih dengan harga pasar ini disesuaikan dengan harga dari end product sehingga petani tidak lagi dipermainkan dengan harga yang rendah dan tidak pasti. Dalam permodalan pun kami dibantu oleh angel investor sehingga mampu memberikan pinjaman modal kepada petani dalam bentuk saprodi tanpa bunga.

Tidak mudah memang meyakinkan dan membiasakan petani yang sudah bertahun-tahun terbiasa bertani konvensional untuk “kembali bertani secara tradisional” dengan memanfaatkan berbagai local wisdom. Terlebih lagi mengawali sebuah usaha dibidang pertanian yang terkenal penuh dengan risiko dan faktor-faktor ketidakpastian seperti ini terasa cukup berat bila dibandingkan dengan berbagai tawaran kerja yang datang kepada kami dengan penawaran materi yang jauh lebih baik dan lebih pasti *maklum dulu sering nongkrong diwarkop sama dosen jadi linknya lumayan*. Tapi kalau bukan para sarjana pertaniannya yang mau turun langsung ke petani, mendengarkan dan membantu petani mengatasi berbagai problematikanya, lalu siapa lagi kaum intelek yang mau?. Karena ilmu dan inovasi adalah sebuah syarat mutlak dalam setiap kemajuan. Kita tidak mau kan petani akhirnya lelah dengan semua masalah ini dan akhirnya memutuskan untuk berhenti menanam padi. Nilai kuota impor beras kita saat ini rasanya sudah lebih dari cukup untuk membuat kita khawatir mau makan apa anak cucu kita 50-100 tahun lagi.

Jadi bagi kami bertani organik, menggalakkan organik, menyediakan saprodi organik bukanlah sebuah tujuan akhir. Ianya hanyalah sebuah kendaraan bagi usaha peningkatan kesejahteraan dari petani itu sendiri, dengan melihat peluang sebuah usaha yang juga mampu membuat kami berdiri di atas kaki kami sendiri tentunya. Walaupun bukan sebuah pengakuan yang kami cari, tapi alhamdulillah apa yang kami lakukan ini sudah banyak mendapat apresiasi dari berbagai instansi. Mulai dari @GEPIndonesia dan @LGTVP melalui program IVAP, Pemerintah Daerah Banyuwangi melalui DKP, hingga @ashokaindonesia melaui program Young Changemaker-nya. Hebat? Kami percaya ada banyak pemuda yang jauh lebih hebat dari kami,,

The big question is, will u do something that even bigger than your self? Even larger than ur life?

Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak dan baik manfaatnya bagi orang lain.

Sigit Pramono (@sigit_mono)

Startup Di Pertanian? Cari Mati, Terlalu Idealis, Not Cool at all, atau…?

Waktu di Kampus (baca:Institut Pertanian Bogor), udah sering denger bahwa lulusan dari IPB itu jarang yang langsung terjun ke pertanian, apalagi wirausaha dan itu bidangnya pertanian, pertanian pangan,,komoditasnya padi lagi….beuh..(pas kuliah aja ilmu tentang padi di skip).

Dan sama yang terjadi sebenarnya ke kita,,di awal kita emang usaha pertanian di bidang bukan tanaman pangan, waktu itu nilam..tau nilam??googling dulu ya,kalo tetep ga tau baru ntar kita jelasin…;p.

Image

Di atas kertas memang hitungannya wow…keuntungan bisa sampai berkali-kali lipat dari modal, maka mulailah kita menanamnya…

Bagaimana stepnya? Kita memulai di luasan sekitar 9000 m2, lalu kita bagi tiga wilayah, masing2 wilayah memiliki teknik yang berbeda baik dalam penanaman maupun pemupukan..Maklum nilam bukan tanaman yang umum jadi referensinya pun sangat2 terbatas…Jadi terpaksa kita memang bereksperimen dan menghitung sendiri kira2 bagaimana, sampai akhirnya kita menemukan cara dan komposisi terbaik untuk penanamannya…(Kalau untuk penanaman nilam versi kita sendiri di lain waktu bakal kita share,,sekarang bahas hal yang lain dulu..)

Begitu juga dengan waktu kita memulai untuk menanam padi..Di luasan awal 7800 m2 kita gunakan beberapa petakan juga dengan cara yang berbeda2,,begitu kita perluas ke wilayah sampai 5 ha pun cara yang digunakan tetap tidak semuanya sama…terus begitu hingga kita menangani padi seluas 120 ha…Kita temukan komposisi yang kita anggap ok, lalu duplikasi,,kita uji lagi apa yang kurang…lalu kita perbaiki terus menerus siklusnya seperti itu….Mengapa begitu?karena umumnya petani yang kita jumpai hanya “jago kandang” dalam artian, teknik yang dipakai cocok untuk wilayahnya saja dan tidak ada hasilnya yang konstan pada tiap musim (ya memang pada musim2 tertentu hasil rata2 lebih baik) tapi fluktuasi terlalu besar, dan tiap kita tanyai hasilnya yang diinformasikan adalah hasil terbaik yang pernah dicapai, padahal kita nanya biasanya keluar berapa Pak??

Berbekal memang kita aslinya alumni pertanian dan juga udah banyak trial n error,,ya lagi2 keluarin alat2 sakti kaya di bawah ini biar lebih tepat analisisnya..*asik

Image

Sampai pada tahun 2012 (Kita terhitung berwirausaha dari nilam itu tahun 2010) ada suatu kompetisi wirausaha yang salah satu kategorinya adalah startup..Startup??Apa itu??Maklum waktu kami dulu bener2 dihabiskan di lapangan dan jauh di ujung Jawa Timur (ya itu murni alasan sih,,:p..kalo jujur memang malas belajar hal lain selain teknis ;p). Singkat cerita (akan ada waktunya untuk cerita bagian ini,,sabar yee…) waktu mengikuti kompetisi tersebut banyak sekali istilah2 alien yang kita bener2 ga paham, early adopters, product prototype, local champion…tapi memang jadinya mikirnya lebih sistematis,,seperti dapat pencerahan..segeralah kita tau itu bukan sekedar istilah tapi semua ada ilmunya…seperti ilmu pertanian,,bisnis juga ada ilmunya…:D

Dalam perjalanan memahami dan mencoba mengerti lalu pada awal tahun 2013 ini ngebaca artikel yang sekarang menjadi bacaan favorit kita dari mas @dondihananto di http://www.dailysocial.net/post/fail-early dan hey,,it sounds familiar!!!

Bayangkan..memang hitungannya kita mungkin baru 2-3 tahun bertani padi,,tapi di 3 tahun itu apa yang kita lakukan berkali-kali lipat dari yang biasa dilakukan oleh petani pada umumnya, sehingga kita bisa memotong pengalaman bertani puluhan tahun..

Seorang petani normal katakan mengerjakan lahannya seluas 1 ha, dalam 1 tahun tanam 2 kali sehingga katakan mulai bertani pada umur 20 tahun, pada umur 50 tahun maka sang petani telah memiliki pengalaman bertani selama 30 tahun, 60 musim tanam dan 60 kali tanam-panen.

Pada waktu 3 tahun ini, Kami telah melakukan lebih dari 200 kali tanam-panen!!! mengalami 9 musim tanam (beberapa wilayah di Banyuwangi 1 tahun 3 kali musim tanam, kebetulan kami mayoritas berada pada wilayah tersebut), sehingga dengan waktu yang sama dengan sang petani (asumsi cateris paribus,hehe..) maka dalam 30 tahun kami mengalami lebih dari 2000 kali tanam panen, tiga puluh kali lipat lebih banyak!! (Bukan menyombongkan diri, namun memang kadang pengalaman itu ukurannya sering kurang tepat, dihitung berdasarkan tahun atau umur bukan dari pengalaman sebenarnya)

Dan Alhamdulillah Allah memang menyayangi kami, dengan memberikan ujian yang nyaris lengkap dalam 3 tahun ini dari serangan hama wereng yang sangat ganas hingga 2 musim ini bergelut dengan tikus, juga masa kekurangan air hingga jam 11 malam masih di sawah menunggu air yang masuk,,jam 6 pagi sudah di sawah lagi untuk mengecek apakah memang air benar2 masuk,,sehingga kami benar2 telah fail often and early!!!(dan alhamdulillah kami memang bukan keledai yang katanya terperosok pada lubang atau kesalahan yang sama)

Kalau teman2 mengalami apa yang kami alami tulisan dari mas @dondihananto itu bukan cuma sekedar tulisan tapi memang seperti pengingat dan juga guide bahwa insyaAllah kita di jalan yang benar..:D. Oh ya,,dan juga peringatan bahwa jangan pernah berhenti belajar,,jangan pernah cepat puas,,jangan remehkan pengalaman orang lain juga!!

Oh ya,,yang kami utarakan di atas masih di segi sawah sebagai hulu dari lini bisnis kita,,belum dari prosesing dimana kita sempat lakukan berbagai sistem pembukuan gudang,,pengaturan tenaga kerja,,lalu lini marketing dimana kita sempat mengangkat produk beras dari putih, merah, yang organik, sehat, hingga sekarang kita fokuskan pada produk benih…thats a lot story and experience behind…Juga belum dari lini usaha kami yang lain seperti sarana produksi pertanian…:),,dari sanalah sebenarnya apa yang kita lakukan ini bukan lagi sekedar idealisme,,bukan masalah keren atau tidak…(Kita termasuk orang2 yang dari mahasiswa dulu tidak melihat wirausaha sebagai profesi yang dibuat keren2an,,karena itu sempat apatis dengan yang namanya kompetisi wirausaha dan motivator yang “jualan” mimpi sebagai wirausaha…*piss),,kita juga sekarang sudah beranjak dewasa *asik salah satu dari founder @iyud22 bahkan sudah memiliki buah hati,,ya tentunya juga punya istri (meski nama akun twitternya sedikit alay,paling muda juga tapi dia yang duluan sebagai bapak2) jadi ya tentunya ada pertimbangan tersendiri dari kami mengapa kami memilih jalan ini….

Kami percaya bahwa with doing good we will get the good result too… Sesuai dengan visi kami yaitu “Menjadi perusahaan global terdepan dalam multisektor bisnis yang terintegrasi dengan mengedepankan dampak sosial untuk masyarakat”. Jadi visi ini bukan sekedar tulisan penghias, kita lihat dengan bergerak di bidang pertanian kita bisa mendapatkan apa yang dinamakan profit dan juga benefit yang lain. Apakah profitnya berkali-kali lipat dari modal yang dikeluarkan??Maka kami jawab IYA!!

Pertanian pangan apabila dipandang terpotong2 maka akan terlihat seperti bencana,,namun bila kita lihat dari hulu ke hilir banyak sekali potensi yang masih bisa kita kembangkan..Pertanian pangan kita masih haus akan inovasi dan menunggu ide2 segar yang terus bermunculan…Dan margin/profit yang sebenarnya akan terlihat bila sudah benar2 terjun ke tengah2nya…Ingat,,bisnis bukan berhenti di lembaran business plan,,proses perjalanan dan evaluasi yang akan membuatnya sempurna…bukan hanya analisis maupun hitungan di atas kertas..:)

Banyuwangi, 23 Juni 2013

Kukuh Roxa Putra Hadriyono (@Roxaph)
Director of CV Pandawa Putra Indonesia

Blog at WordPress.com.

Up ↑