Ber-organik bukanlah tujuan akhir

“Ooh.. yang organik itu ya mas?”

Biasanya itu adalah salah satu kalimat pertama yang keluar dari mulut petani yang baru pertama kali bertemu dengan kami. Ada rasa bangga, eksistensi kami di dunia pertanian Banyuwangi sudah mulai disadari bahkan diakui oleh para petani. Melihat reputasi kami sering kali sudah mendahului kehadiran kami. Our reputation already pursuit us kalau kata mbah saya yang keturunan Belanda. Yap, tiga orang pemuda kece lulusan IPB yang terjun langsung ke petani-petani, petani mana yang sanggup menolak kita untuk dijadikan menantu?? Banyak sih, hehehe.. banyak banget malah, hahaha.. *iris-iris urat nadi*

Tapi disini bukan tempatnya membahas dunia permenantuan.

Kembali ke topik, memang ada rasa bangga, maklum jadi semacam seleb, tapi juga sedikit miris, karena setelah ditelaah lagi, dari kalimat awal tersebut terkadang ada beberapa yang menganggap bahwa kami menggiatkan pertanian organik hanya bertujuan untuk menjual produk saprodi organik kami. Tanpa bermaksud munafik, hal tersebut tidak sepenuhnya benar walaupun tidak pula sepenuhnya salah. Memang ada kebutuhan dapur agar tetap mengepul yang harus kami penuhi, terutama @iyud22 bapak buncit yang butuh dana untuk resepsi dengan istri kedua. Salah satunya dengan penjualan produk saprodi organik. Akan tetapi bila kembali ke waktu dimana kami memulai berusaha di ranah pertanian, khususnya padi, dengan sisa-sisa semangat idealisme mahasiswa pertanian, kami bisa mengatakan dengan bangga bahwa apa yang kami tuju diawal dari menggiatkan pertanian organik adalah pencarian sebuah solusi dari banyaknya masalah yang menghambat petani untuk mandiri dan berkembang. Yang pada akhirnya adalah peningkatan kesejahteraan petani itu sendiri!! *prookk.. prookk.. prookk..* *bunyi tepuk tangan sidang jum’at yang berbahagia* *eh sidang jum’at gak boleh tepuk tangan deng*

Mengawali  kisah panjang kami di pertanian organik ini kami dihadapkan dengan tantangan untuk mengelola padi sawah seluas 30 Ha. Menjadi sedikit lebih rumit dari yang dibayangkan karena pada waktu itu kami adalah fresh graduate yang hanya memiliki pengalaman mengelola sawah ubinan di lahan praktikum kampus, itu pun biasanya juga dilakukan keroyokan 4-6 mahasiswa *tutup muka*. Saat itu kami juga dihadapkan dengan lingkungan yang tidak mendukung. Lokasi lahan-lahan yang kami kelola adalah lokasi dimana hama penyakit, terutama wereng sudah endemik, tepatnya di daerah Singonjuruh, Banyuwangi. Sisi positifnya dengan kondisi seperti itu, melalui banyak diskusi kami dengan petani kami justru banyak mempelajari budaya kerja, lingkungan sosial serta pola pikir petani setempat. Hal inilah yang ternyata mejadi akar permasalahan dari tingkat endemik serta membuat mereka terjebak dalam ketergantungan  kepada pemilik penggilingan maupun produsen kimia (red: anorganik).

Image

Obrolan santai di lahan sering menjadi “sesi curhat” berbagai problematika para petani kepada kami..

Dari sisi budidaya, ketergantungan petani kepada produk anorganik yang terkenal ampuh dan cepat (iya, ampuh membuat OPT resisten dan cepat membuat OPT datang lagi) serta penggunaannnya yang jauh dari konsep 4T (tepat waktu, cara, dosis, dan guna) membuat daerah ini menjadi daerah endemik yang selalu mengalami serangan OPT dengan intensitas tinggi diseluruh musim tanam.

Akibat resistensi ini petani perlu menggunakan saprodi-saprodi dengan kualitas terbaik yang harganya jauh lebih mahal tentunya, karena produk dengan harga yang lebih murah sudah tak mampu lagi mengatasi. Dan tinggal menunggu waktu hingga OPT pun menjadi resisten dengan produk yang mahal sekalipun. Karena penggunaannya yang kurang bijak oleh petani.

Menghadapi resitensi ini produsen anorganik dengan baik hati dan senyum sumringah akan membuat produk-produk baru yang harganya tentu saja jauh lebih mahal. Bahkan yang lebih menyedihkan terkadang produk baru yang lebih mahal ini hanyalah formula lama yang dikemas dan diberi merek baru. Bukan asal tuduh, tapi hal ini pun diakui sendiri oleh rekan yang bekerja di salah satu perusahaan besar produsen anorganik.

Dengan produk-produk yang semakin mahal ini, serta harga gabah yang selalu setia dengan yang lama *uhuukk.. uhuukk.. salah tempat buat setia nih*, tentu semakin memberatkan petani dalam membiayai usaha taninya dan keuntungan petani pun juga akan semakin menipis.  Ya bagaimana harga gabah mau naik, harga beras naik sedikit saja banyak masyarakat di kota-kota besar yang pegangannya BB *tapi gak punya pulsa, cuma pake paket BBM jadi kalo di SMS gak akan dibales->emosi->pengalaman pribadi* sudah teriak-teriak sambil gebrak-gebrak meja kayak abis dikerjain mbah dukun bertahun-tahun *DEMI TUHAAANN!!*.

 Image

Teman saya @RoxaPH pernah membuat kultwit simulasi kenaikan harga gabah yang adil bagi petani dan sebenarnya juga tidak akan terlalu memberatkan masyarakat. http://chirpstory.com/li/92305 *kultwit? Iya kuliah twitter, maklum aktivis, mantan bakal calon ketua BEM*

Nah kembali ke persoalan petani, tidak berhenti sampai disitu. Harga-harga saprodi yang semakin mahal otomatis membuat modal yang dibutuhkan semakin besar. Akhirnya banyak yang kemudian meminjam modal kepada penggilingan beras dengan bunga bisa mencapai 50%. Inilah yang kemudian menyuburkan sistem ijon di Indonesia. Dengan adanya pinjaman ini akhirnya petani tidak memiliki posisi tawar terhadap hasil panenan mereka. Kenapa? Karena panenan mereka sudah otomatis diserahkan kepada penggilingan tersebut dengan harga yang biasanya baru diberi tahu kepada petani seminggu setelah panenan mereka diambil. Bagaimana dengan harga yang diberikan itu? Ya pikirin aja sendiri, takut nangis nanti ngetiknya kalo disebutin. Hasil yang didapat setelah dipotong hutang kadang hanya senilai kalian ngajak gebetan makan di pizza hut. Kalau kurang akhirnya sawah mereka digadaikan. Kalau sawah digadaikan akhirnya mereka tidak bisa berusaha. Mereka tidak bisa berusaha akhirnya semakin dalam tenggelam dalam jeratan bunga hutang. Piuuuhh..

Semua ini kemudian menjadi hal komlpleks yang sulit untuk ditentukan dari mana harus memutusnya. Belum lagi masalah lingkungan dan kesehatan dari petani sendiri yang ditimbulkan produk anorganik.

Hal-hal inilah yang kemudian kami brainstorming-kan untuk dicarikan solusinya. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk membuat sebuah sistem usaha hulu sampai hilir sehingga tidak perlu memutus satu persatu rantai permasalahan-permasalahan tersebut. Untuk menguatkan sistem yang bisa mengatasi ini semua dan memberi nilai lebih bagi petani kami melihat hanya bertani organik lah yang mampu menopangnya sebagai fundamental dari sitem tersebut.

Kenapa organik? Karena pada akhirnya hanya bertani organik lah yang dapat mengatasi permasalahan resistensi OPT dan menurunnya produktivitas akibat penurunan kesuburan lahan yang terjadi di lapang. Penurunan kesuburan lahan ini terlihat dari kenyataan untuk mendapatkan hasil yang sama dengan musim sebelumnya diperlukan pupuk dengan dosis yang semakin tinggi.

Bertani organik juga menjadi jawaban bagi usaha kami untuk meningkatkan nilai produk pertanian yang peningkatannya sendiri dapat diterima dengan baik oleh pasar. Kami melihat dewasa ini awareness masyarakat akan healty lifestyle sudah semakin baik sehingga rela mengeluarkan biaya lebih untuk mendapatkan produk organik. Artinya dengan nilai jual produk akhir yang lebih tinggi ini kami dapat memberikan harga yang juga lebih baik bagi petani. Inilah yang kemudian mendasari kami menciptakan sebuah sistem hulu sampai hilir yang awalnya kami mulai dari produk beras merah sehat sebagai end product hingga kini beralih fokus menjadi benih padi sebagai end product.

Memegang pengelolaan selruh prosesnya mulai dari pendampingan petani di lahan hingga memasarkan end product memudahkan kami untuk menerapkan kaidah fair trade. Kami berikan kontrak harga kepada petani diawal kerjasama dengan nilai yang lebih tinggi dari harga pasaran. Selisih dengan harga pasar ini disesuaikan dengan harga dari end product sehingga petani tidak lagi dipermainkan dengan harga yang rendah dan tidak pasti. Dalam permodalan pun kami dibantu oleh angel investor sehingga mampu memberikan pinjaman modal kepada petani dalam bentuk saprodi tanpa bunga.

Tidak mudah memang meyakinkan dan membiasakan petani yang sudah bertahun-tahun terbiasa bertani konvensional untuk “kembali bertani secara tradisional” dengan memanfaatkan berbagai local wisdom. Terlebih lagi mengawali sebuah usaha dibidang pertanian yang terkenal penuh dengan risiko dan faktor-faktor ketidakpastian seperti ini terasa cukup berat bila dibandingkan dengan berbagai tawaran kerja yang datang kepada kami dengan penawaran materi yang jauh lebih baik dan lebih pasti *maklum dulu sering nongkrong diwarkop sama dosen jadi linknya lumayan*. Tapi kalau bukan para sarjana pertaniannya yang mau turun langsung ke petani, mendengarkan dan membantu petani mengatasi berbagai problematikanya, lalu siapa lagi kaum intelek yang mau?. Karena ilmu dan inovasi adalah sebuah syarat mutlak dalam setiap kemajuan. Kita tidak mau kan petani akhirnya lelah dengan semua masalah ini dan akhirnya memutuskan untuk berhenti menanam padi. Nilai kuota impor beras kita saat ini rasanya sudah lebih dari cukup untuk membuat kita khawatir mau makan apa anak cucu kita 50-100 tahun lagi.

Jadi bagi kami bertani organik, menggalakkan organik, menyediakan saprodi organik bukanlah sebuah tujuan akhir. Ianya hanyalah sebuah kendaraan bagi usaha peningkatan kesejahteraan dari petani itu sendiri, dengan melihat peluang sebuah usaha yang juga mampu membuat kami berdiri di atas kaki kami sendiri tentunya. Walaupun bukan sebuah pengakuan yang kami cari, tapi alhamdulillah apa yang kami lakukan ini sudah banyak mendapat apresiasi dari berbagai instansi. Mulai dari @GEPIndonesia dan @LGTVP melalui program IVAP, Pemerintah Daerah Banyuwangi melalui DKP, hingga @ashokaindonesia melaui program Young Changemaker-nya. Hebat? Kami percaya ada banyak pemuda yang jauh lebih hebat dari kami,,

The big question is, will u do something that even bigger than your self? Even larger than ur life?

Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak dan baik manfaatnya bagi orang lain.

Sigit Pramono (@sigit_mono)

Advertisements