Mengenal Peran Lembaga Filantropi dalam Dunia Wirausaha Sosial

Wah udah bulan Agustus,,dan abis ni udah lebaran,,bulan puasa yang ga kerasa….

Alhamdulillah di tengah2 bulan puasa kemarin, punya kesempatan untuk ke Jakarta, bertemu dengan sang mentor mas @fajaranugerah di acara British Council yang digelar di @commaid . Nah pada kesempatan ini mau sharing tentang apa yang kemarin di dapat disana.

Acaranya sendiri bernama “Impact Investing & Social Enterprise gathering”,,dimana hadir perwakilan-perwakilan dari banyak pelaku Social enterprise di Indonesia, terlihat ada dari ashoka indonesia, Javara, Grameen Bank Indonesia. Selain itu juga tampak hadir dari teman-teman KOI (Komunitas Organik Indonesia). Di tengah2nya ada juga para alumni Community Entreprise Challenge, sang kopi luwak siger, juragan VCO dari Maluku, Raja Sampah, Bu Atiek Kusmiyati dan saya sendiri mewakili Pandawa Putra Indonesia.

Acara dibuka oleh mas Dondi Hananto sebagai perwakilan dari @commaid, lalu diserahkan kepada moderator mas Romy. Pembicaranya sendiri datang dari lembaga-lembaga keuangan luar negeri yang fokus pada pengembangan kewirausahaan di dunia, salah satunya Indonesia. Lembaga-Lembaga ini melakukan investasi kepada usaha lokal di masing-masing negara yang mereka pilih, untuk nantinya didampingi hingga berkembang memberikan impact yang luas kepada masyarakat sekitar. Seperti yang biasa saya bilang Goes Beyond Profits, but Benefits.

Gambar
Mas Romy sedang memperkenalkan satu persatu pembicara

Pembicara pertama dari perwakilan dari LGT VP yaitu David Soukhasing. Seorang Prancis yang menjabat sebagai Accelerator Manager untuk wilayah Indonesia. LGT VP ini sendiri bermarkas di negara Licheistein (bener ga ya tulisannya?), negara tiny mini di Eropa sana yang cakupannya udah di semua benua (keren ya,kecil2 gede juga <—absurd). Di Indonesia LGT VP sebelumnya telah hadir dengan program IVAP dan SWAP yang berkolaborasi dengan GEPI.

20130716_191301
Mr David dari LGT VP

Yang kedua adalah pembicara dari GBF (Grassroot Business Fund), maaf lupa namanya (memang mulai dulu susah apalin nama), yang jelas kalo di gambar yang pertama orangnya duduk di tengah.  Silahkan langung klik ke link yang ku berikan untuk tau lebih lanjut dari GBF ini.

Yang ketiga adalah pembicara dari Grameen Foundation (GF). Yap dari namanya udah terkenal banget kan?? Organisasi ini bentukan dari Prof M.Yunus pemenang nobel perdamaian tahun 2006 . Dan sekarang juga telah merambah ke berbagai negara salah satunya Indonesia. Salah satu mitra dari GF di Indonesia adalah Ruma. Perwakilan dari GF ada pictnya dibawah ini :

Lupa euy namanya..sebut saja Miss cantiklah..:D

Nah sekarang kita bahas bagaimana sistem kerjanya,

Kebanyakan pelaku Social entreprise adalah orang2 yang tidak memiliki basic sebagai pebisnis, adanya masalah sosial seperti kemiskinan,pengangguran,buta huruf dll berusaha diselesaikan dengan berbagai kreativitas ada yang melalui pendekatan seni, pendidikan ada juga yang melalui pendekatan keuangan, nah itu semua belum sahih dikatakan bisnis sosial, bila aspek bisnisnya tidak berjalan. Disinilah lembaga2 seperti LGT VP,GBF maupun Grameen berperan.

Manusia2 yang memiliki kepedulian dan jalan hidup yang berbeda inilah yang didampingi dalam artian menjadi mitra konsultan/mentor dalam membantu permasalahan yang dihadapi. Tentunya tiap badan permasalahannya beda, ada yang mempunyai masalah di keuangan,ada yang mempunyai kesulitan teknis,ataupun akses pasar, para filantropi ini akan mendatangkan para ahli di bidangnya masing2 sesuai dengan yang dibutuhkan. Enak kan ya??Nah apakah itu diberikan cuma2? Tentunya tidak..Its still a business but have a different perception. Para filantropi ini mempunyai cara yang berbeda dalam “meminta” balasan, ada yang masuk sebagai pemegang saham sehingga bisa berperan sebagai penentu kebijakan (meski minoritas) pada badan usaha dalam jangka waktu tertentu atau untuk selamanya, ada yang memberikan pinjaman lunak (bunga middle) dengan jangka waktu yang medium (biasanya 3-10 tahun). Namun ada satu kesamaan diantara tiga filantropi ini yaitu ukuran kesuksesan utama bukan dari omzet usaha,kerapian manajemen usaha atau skill tapi yang paling utama adalah besarnya dampak sosial yang diberikan (Benefit). Oh ya,kalau pengen konsultasi aja tapi ga butuh dana atau ga mau share saham bagaimana??Untuk hal tersebut ketiga filantropi ini tidak bisa menyanggupi, karena keterikatannya memang akhirnya tidak ada. Bila memang yang dibutuhkan seperti itu berarti anda membutuhkan konsultan bisnis bukan lembaga filantropi.

Menarik bukan? Mungkin ada yang bertanya,apa ga risih ada yang “ubek2” dapur usaha kita. Inilah yang sering dilupakan pelaku usaha, untuk mencapai suatu keahlian profesi saja kita harus menempuh sekolah dalam beberapa jenjang, dan di waktu itu kita mempunyai guru yang membimbing kita. Namun waktu melangkah ke bisnis banyak dari kita pelaku bisnis merasa solitare, kenyataannya para wirausahawan yang sukses mayoritas memiliki mentor.

Lalu bagaimana cara memilih yang cocok untuk usaha anda?

LGT VP memiliki range support dana dari $30.000 hingga $500.000, tidak ada syarat omzet usaha harus berapa, namun minimal usaha harus sudah jalan selama 2 tahun. (early middle level company)

GBF memiliki range support dana dari $500.000-$2000.000, ada syarat omzet usaha (sekitar 2 M per tahun), usaha telah jalan selama 3 tahun. (midde-high level company)

Grameen Foundation seperti yang kita tahu memiliki preferensi untuk membantu wirausaha wanita dan lebih cenderung ke low income people or community. Sementara untuk lama usaha maupun omzet bukan menjadi pertimbangan utama. Keunggulan dari grameen ini sudah ada akulturasi dengan Indonesia sehingga sudah ada cabang Grameen Foundation Indonesianya yang dipimpin oleh Pak Farid Maruf. 🙂

Untuk menutup penjelasan akan saya berikan juga gambaran perbedaan antara Lembaga Bank, Filantropi dan Investor konvensional, meski dalam contoh tercantum GBF namun pada umumnya memang hal2 dibawah inilah yang menjadi perbedaan.

Perbedaan cara pandang n support antara Bank, Filantropi dan Investor Konvensional
Perbedaan cara pandang n support antara Bank, Filantropi dan Investor Konvensional

ps: mungkin ada juga yang bertanya karena cinta produksi dalam negeri, untuk yang berasal dari domestik ada ga ya??Ada kok…di lain kesempatan kita bahas juga ya…:). Bila ada yang ditanyakan lebih lanjut saya juga sangat terbuka untuk membagi apa yang saya tahu.

Kukuh Roxa PH (@roxaph)

CEO PPI

Advertisements