Pertanian secara organik semakin berkembang dengan seiringnya permintaan pasar. Kesadaran konsumen akan bahaya mengkonsumsi residu pestisida secara berlebihan menyebabkan mereka mulai beralih ke produk pertanian yang lebih aman dan tidak menggunakan pestisida sintetik. Selain itu, kesadaran dalam menjaga kelestarian lingkungan dan pertanian berkelanjutan membuat permintaan pasar akan produk organik semakin meningkat.

Organisme pengganggu tanaman merupakan musuh utama didalam pertanian organik. Penggunaan pestisida sintetik yang tidak diperbolehkan dalam sistem pertanian ini membuat pelaku pertanian organik harus mencari cara dalam mengendalikan organisme pengganggu tanaman. Pengendalian gulma merupakan pengendalian OPT yang membutuhkan biaya yang sangat besar, apalagi tidak diperbolehkan menggunakan herbisida sintetik. Oleh karena itu, pelaku pertanian organik menggunakan ekstrak tanaman, pemanfaatan musuh alami, maupun pengendalian secara manual untuk mengendalikan gulma.

Dalam beberapa tahun ini, contoh merk dagang herbisida organik yang telah beredar antara lain: Weed Pharm (20% asam asetat), Matratec (50% minyak cengkeh), dll. Bahan herbisida organik yang terkenal diantaranya adalah minyak cengkeh, minyak citronella, asam asetat dari air kelapa, asam lemak, tepung gluten jagung, dll. Bahan-bahan tersebut dapat mengendalikan pertumbuhan gulma, namun terdapat keterbatasan. Herbisida organik bekerja secara kontak dan akan mematikan sel tumbuhan apa saja yang terkena. Namun, herbisida ini tidak beracun terhadap batang maupun ranting tanaman budidaya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi efikasi dari herbisida organik antara lain: umur dan jenis gulma pada saat dilakukan pengendalian, volume semprot, adjuvan, dan kondisi lingkungan (sinar matahari dan temperatur). Laporan efikasi herbisida organik sangat dipengaruhi oleh jenis gulma yang dikendalikan, gulma daun lebar (broadleaves) lebih mudah dikendalikan dibandingkan jenis gulma rumputan (grass weeds). Hal tersebut kemungkinan disebabkan posisi tumbuh gulma rumputan secara horizontal menyebabkan sangat sedikit kontak dengan dengan herbisida organik. Selain itu, pertumbuhan akar dan tempat tumbuh gulma rumput yang berada dibawah ataupun diatas lapisan tanah menyebabkan kontak terhadap herbisida organik berkurang. Aplikasi herbisida organik terhadap gulma yang berumur kurang dari 15 hari terbukti efektif, dan efikasinya semakin berkurang seiring bertambah tua umur gulma. Volume semprot yang tinggi atau penyemprotan dengan volume yang tinggi membantu meningkatkan efikasi herbisida organik. Herbisida organik dilaporkan bekerja optimal pada sinar matahari yang cukup, dan berkurang efikasinya pada musim hujan maupun musim dingin

Penambahan adjuvan juga dilaporkan dapat meningkatkan efikasi herbisida organik, akan tetapi pemilihan adjuvan yang sesuai dengan sistem pertanian organik juga sangat perlu diperhatikan mengingat tidak diperbolehkan adanya zat berbahaya maupun senyawa sintetik. Weed Solut-ion merupakan adjuvan yang bahan penyusunnya terdiri dari 70% senyawa organik dan tambahan senyawa non racun mampu meningkatkan efikasi herbisida organik dalam mengendalikan populasi gulma di pertanaman organik.

Berikut beberapa contoh bahan-bahan organik yang dapat digunakan sebagai herbisida:

  1. Asam lemak

Asam lemak sudah digunakan sebagai bahan pengendali gulma sejak lama. Herbisida ini bersifat non selektif dan memiliki spektrum yang luas. Herbisida ini diketahui bersifat kontak, dengan cara kerjanya yaitu merusak membrane sel dan menyebabkan terganggunya fungsi seluler gulma. Keuntungan dari penggunaan jenis herbisida ini adalah tidak adanya residu dalam tanah maupun tanaman serta memiliki tingkat toksisitas yang rendah.

  1. Asam asetat

asam asetat 20% merupakan salah satu bahan herbisida organik yang bersifat non selektif. Asam asetat bersifat kontak dan membakar jaringan tanaman sehingga penggunaannya biasanya digunakan pada lahan tanpa tanaman utama atau digunakan untuk membuka lahan, seperti: area terbuka, areal sekitar industry, atau lahan disekitar lapangan golf. Asam asetat hanya mematikan jaringan yang terkena (atau berada pada lapisan aerial) dan tidak dapat mematikan jaringan yang etrdapat didalam tanah. Gulma yang dikendalikan biasanya mengalami kematian yang cepat tetapi dalam beberapa hari gulma akan kembali tumbuh.

  1. Minyak cengkeh

Herbisida organik dengan bahan penyusun minyak cengkeh umumnya dikombinasikan dengan asam asetat untuk memperoleh efikasi yang lebih baik. Keuntungan penggunaan herbisida dengan bahan minyak cengkeh adalah tidak ditemukannya residu pada tanah maupun bagian tanaman utama, namun aplikasi jenis herbisida ini membutuhkan biaya yang besar.

  1. Minyak citronella

Minyak citronella yang diperoleh dari ekstrak tanaman sereh wangi dikenal luas sebagai bahan repellent / penolak nyamuk. Selain itu, minyak citronella memiliki potensi sebagai pengendali populasi gulma karena dapat mematikan gulma dan tidak menyebabkan keracunan terhadap tanaman utama.

Prabawati Hyunita
Research & Development Product Pandawa Agri Indonesia

Pustaka acuan
Dayan FE, Cantrell CL, Duke SO. 2009. Natural products in crop protection. J of bioorganic and medicinal chemistry 17: 4022-4034. doi: 10.1016/j.bmc.2009.01.046

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.